Peran Istri bagi Seorang Suami

Potongan perbincangan di sebuah rumah makan yang terletak di kawasan Rumah Sakit Santo Yusuf.

“Teh Lia, peran istri bagi seorang suami itu ada empat:

Yang pertama, sebagai tempat kembali layaknya seorang ibu. Suami udah menghadapi berbagai realita dan tantangan hidup di dunia luar yang menguras energinya sehingga ia akan selalu memerlukan tempat kembali. Tempat dimana ia merasa nyaman dan tentram setelah energinya terkuras di luar rumah. Continue reading

Advertisements

Hijabku pun Masih Belum Sempurna

Malam itu aku kembali membuka foto-foto lama. Melihatnya satu per satu, diselingi dengan potongan-potongan kecil senyuman. Bukan karena mengagumi diri sendiri, karena aku tak se-PD itu juga. Aku tersenyum atas kekonyolanku dulu, melihat rambut yang terurai panjang, berbando, dengan poni hasil blow. Hihi lucu. Ah iya, tapi di antara jajaran senyuman itu aku sedih juga. Sedih karena aku tak sadar telah menabung dosa bagi bapakku dulu. Ketika sudah memasuki baligh, aku justru belum memilih untuk berhijab. Aku masih dengan enaknya bepergian kesana kemari dengan celana sebatas lutut dan kaos lengan pendek. Aku tak sadar kalau selama hampir 3 tahun aku menabung dosa untuk bapak. Astaghfirullah.

Syukur alhamdulillah setelah 3 tahun itu aku dapatkan hidayah dari Allah subhanahuwata’ala. Akhirnya aku penuhi panggilan untuk berhijab, menutupi apa yang selama ini aku buka. Sempurnakah hijabku? TIDAK. Kau tau? Hijabku sebatas menutupi kepala dan tubuhku saja. Lekuk tubuh seringkali masih terlihat, jilbab masih digantungkan di leher, kaki pun masih terbuka lebar, kecuali ketika aku pergi ke sekolah. Lagi-lagi aku masih menabung dosa untuk bapak. Astaghfirullah.

Memasuki masa kuliah, aku sangat bersyukur diizinkan Allah untuk belajar di sebuah institut yang di dekatnya terdapat sebuah komplek masjid cukup besar yang sungguh membuat aku nyaman untuk berlama-lama di dalamnya. Aku selalu dibuat kagum dengan para wanita berjilbab lebar menjulur ke dada, pakaian tanpa lekuk tubuh, dan kaos kaki yang selalu menempel pada kakinya. Lantas sempurnakah hijabku setelah melihat mereka? TIDAK.

Sekarang, ketika gelar sarjana telah ku raih atas izin Allah. Keringat dalam mengais rezeki Allah telah dan masih aku rasakan. Impian-impian akan keindahan kehidupan di dunia dan akhirat sedang dan masih aku gapai. Sempurnakah hijabku? TIDAK. Hijabku pun masih belum sempurna. Karena itu, maukah kamu menemaniku untuk sama-sama menyempurnakan hijab? Sayang, tak ada kata terlambat untuk berubah ke arah lebih baik. Selagi Allah masih memberikan umur, kesehatan, dan kelapangan rezeki, maka apalagi yang kita tunggu? 🙂

Ibu Ainun sebagai istri, ibu, dan aktivis perempuan

Jika saya diberikan kesempatan menyampaikan orasi ketika mendapatkan penghargaan dari berbagai lembaga yang bertaraf nasional maupun internasional, saya dengan tulus hati selalu menyampaikan bahwa, “Di balik sukses seorang tokoh, tersembunyi peran dua perempuan yang amat menentukan, yaitu ibu dan istri.” (Habibie, 2010)

Begitulah Pak Habibie menggambarkan betapa pentingnya ibu serta istri beliau, Ibu Ainun, dalam perjalanan kehidupannya. Namun, yang ingin saya angkat disini adalah peran Ibu Ainun sebagai istri, ibu, dan aktivis perempuan. Setelah saya membaca buku Habibie & Ainun, saya berani mengatakan bahwa Ibu Hj. Hasri Ainun Habibie adalah salah satu wanita super di dunia ini. Bagaimana tidak, Ibu Ainun bersedia menikah dengan Pak Habibie ketika Pak Habibie masih belum berkecukupan, mungkin dapat dikatakan masih berpenghasilan seadanya, bahkan serba kekurangan di rantau orang. Hal tersebut menunjukkan bahwa Ibu Ainun bersedia berjuang bersama Pak Habibie untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Tidak hanya itu, Ibu Ainun merupakan sosok istri yang baik, yang menyambut kepulangan suaminya walaupun tengah malam dengan senyum lembutnya, tanpa membahas hal yang berkaitan dengan apa yang dialami oleh suaminya sampai Pak Habibie yang menceritakannya atau meminta pandangan Ibu Ainun. Ketika kamar tidur Pak Habibie dan Ibu Ainun dipenuhi kertas-kertas kerja yang berserakan, Ibu Ainun tidak marah sama sekali. Wow, hebat! Kalau saya mungkin udah celetak-celetuk sana-sini. Itulah Ibu Ainun yang penuh pengertian. Beliau juga seringkali menemani Pak Habibie yang sedang bekerja tengah malam dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an kemudian mengingatkan Pak Habibie untuk beristirahat jika sudah larut malam.

Sebagai seorang ibu, Ibu Ainun melepas pekerjaannya sebagai dokter untuk menjaga dan mendidik kedua putra mereka. Ada yang menarik disini, Ibu Ainun melepas sesuatu yang selama ini diperjuangkannya atau bahkan mungkin dicita-citakannya selama ini. Hmm, muncul pertanyaan di benak saya, apakah seorang wanita harus menghentikan apa yang telah dan masih diperjuangkan setelah dia menikah? Mungkin ada yang berpendapat, “Ya emang hakikatnya begitu, itu tuntutan hidup”, ada juga yang berpandangan lain, “Ga harus kayak gitu juga sih, perempuan masih bisa kok ngelanjutin pekerjaan/profesinya setelah dia berkeluarga.” Kalo kata saya, sekarang perempuan lebih banyak setuju ke pandangan yang kedua. Iya ga sih?! Teman-teman dekat saya sih sebagian besar memberi pandangan seperti itu. Kalau menurut saya sendiri, sebagai wanita, kita tidak perlu melepaskan sesuatu yang telah kita perjuangkan dan cita-citakan setelah kita berkeluarga, dengan syarat tetap melakukan kewajiban sebagai seorang istri dan seorang ibu. Secara teori mungkin gampang, tapi kalo udah praktek pasti banyak aral melintang. Yaa, berarti pada intinya adalah harus cerdas bagi waktu. Hmm, iya, manajemen waktu.

Selain sebagai seorang istri dan ibu yang baik, ibu Ainun juga adalah seorang aktivis wanita. Beliau mendirikan organisasi-organisasi sosial yang bergerak untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Ibu Ainun juga aktif dalam membagikan ilmunya kepada istri-istri para pejabat ketika Pak Habibie duduk di kursi pemerintahan. Kemudian, beliau juga selalu mengadakan pengajian rutin untuk perempuan di kediamannya dan sampai sekarang, walaupun beliau telah tiada, organisasi-organisasi serta pengajian yang beliau dirikan masih berjalan. Subhanallah.

Itulah sedikit cerita yang saya kutip dari buku Habibie & Ainun. Sangat inspiratif. Mau memetik hikmah lebih banyak? Silahkan membacanya! Kalo di Gramedia, harganya Rp 80.000, kalo di toko buku jalan gelap nyawang, diskon 30% lho! Hoho belajar promosi.. 🙂

Perempuan super

Alhamdulillah, diberi kesempatan oleh Allah menjadi seorang perempuan di dunia ini. Ya, perempuan yang diistimewakan Allah dalam surat-Nya An-Nisa (yang artinya wanita). Ya, yang diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, katanya ini salah satu alasan kenapa perempuan itu lemah. Hmm, tapi definisi lemah itu luas kan yaa. Hyaa, bukan itu yang mau saya bahas disini.

Saya ingin membahas tentang wanita super, kalo bahasa gaulnya mah SUPERWOMAN. Super itu punya banyak arti kalo dipandang dari sudut yang berbeda, bisa negatif, bisa juga positif, tergantung siapa dan bagaimana seseorang menilai wanita super. Kalo saya sendiri punya pengalaman yang kurang menyenangkan dengan julukan “wanita super” ini. Jangan tanya kenapa, karena saya akan menceritakan sebagian kecil pengalaman saya mengenai julukan “wanita super”. Ya singkat cerita, saya pernah terlibat dalam suatu kepanitiaan, tepatnya divisi yang memiliki program kerja untuk menyebarkan undangan, baik itu dalam maupun luar negeri (lebay, maksudnya dalam dan luar kota). Suatu hari, ada beberapa undangan yang harus diantarkan ke kota udang. Setelah diskusi dengan beberapa orang teman saya, saya dan seorang teman saya, sebut saja Desy, berencana untuk mengantarkan undangan tersebut berdua. Namun, karena Desy harus berangkat lebih dulu bersama kk sepupunya, Desy memberikan tiket bis gratis pada saya. Kemudian, H-1 malam keberangkatan saya ke Kota Udang itu, saya menerima sms dari bos saya,lupa sih redaksi kalimatnya kayak gimana, ga disave juga, ya iyalah, udah hampir 2 tahun yang lalu. Pokonya intinya saya ga usah berangkat kesana, karna dia sama salah seorang kk kelas saya yang akan berangkat kesana (Alhamdulillah… J). Tapi siapa yang menyangka, kalau rencana keberangkatan saya ke Kota Udang itu membuat saya memiliki julukan “wanita super” yang bikin temen-temen panitia dan pengurus (berjenis kelamin laki-laki) kena marah swastah, dan saya baru tau hal ini setelah setahun kemudian. Lalu..lalu..beberapa bulan yang lalu, seorang teman saya mengingatkan pengurus baru, “ulah nepi ka aya deui lah wanita super!” Astaghfirullah,saya meyakinkan diri kalo yang dia maksud bukan saya, tapi ya emang kenyataannya saya. Nyeri hate sih, dikit. Heu.. Apakah salah kalo saya mengusahakan sesuatu saat orang-orang tidak ada yang mau mengusahakannya? Tapi kembali lagi seperti apa yang saya bilang di awal pembicaraan mengenai wanita super ini, arti wanita super ini bisa positif dan negatif. J Continue reading