Hijabku pun Masih Belum Sempurna

Malam itu aku kembali membuka foto-foto lama. Melihatnya satu per satu, diselingi dengan potongan-potongan kecil senyuman. Bukan karena mengagumi diri sendiri, karena aku tak se-PD itu juga. Aku tersenyum atas kekonyolanku dulu, melihat rambut yang terurai panjang, berbando, dengan poni hasil blow. Hihi lucu. Ah iya, tapi di antara jajaran senyuman itu aku sedih juga. Sedih karena aku tak sadar telah menabung dosa bagi bapakku dulu. Ketika sudah memasuki baligh, aku justru belum memilih untuk berhijab. Aku masih dengan enaknya bepergian kesana kemari dengan celana sebatas lutut dan kaos lengan pendek. Aku tak sadar kalau selama hampir 3 tahun aku menabung dosa untuk bapak. Astaghfirullah.

Syukur alhamdulillah setelah 3 tahun itu aku dapatkan hidayah dari Allah subhanahuwata’ala. Akhirnya aku penuhi panggilan untuk berhijab, menutupi apa yang selama ini aku buka. Sempurnakah hijabku? TIDAK. Kau tau? Hijabku sebatas menutupi kepala dan tubuhku saja. Lekuk tubuh seringkali masih terlihat, jilbab masih digantungkan di leher, kaki pun masih terbuka lebar, kecuali ketika aku pergi ke sekolah. Lagi-lagi aku masih menabung dosa untuk bapak. Astaghfirullah.

Memasuki masa kuliah, aku sangat bersyukur diizinkan Allah untuk belajar di sebuah institut yang di dekatnya terdapat sebuah komplek masjid cukup besar yang sungguh membuat aku nyaman untuk berlama-lama di dalamnya. Aku selalu dibuat kagum dengan para wanita berjilbab lebar menjulur ke dada, pakaian tanpa lekuk tubuh, dan kaos kaki yang selalu menempel pada kakinya. Lantas sempurnakah hijabku setelah melihat mereka? TIDAK.

Sekarang, ketika gelar sarjana telah ku raih atas izin Allah. Keringat dalam mengais rezeki Allah telah dan masih aku rasakan. Impian-impian akan keindahan kehidupan di dunia dan akhirat sedang dan masih aku gapai. Sempurnakah hijabku? TIDAK. Hijabku pun masih belum sempurna. Karena itu, maukah kamu menemaniku untuk sama-sama menyempurnakan hijab? Sayang, tak ada kata terlambat untuk berubah ke arah lebih baik. Selagi Allah masih memberikan umur, kesehatan, dan kelapangan rezeki, maka apalagi yang kita tunggu? 🙂

Advertisements

How I met Amy, hahaha..

Sore ini, terharu melihat sebuah postingan di blog seorang teman baik. Sebetulnya kita ga deket-deket banget, bahkan ketemu aja baru dalam hitungan jari, entah kenapa rasanya saya ‘klik’ aja. Kalo kata Amy mah berteman dalam kebaikan ya My, insyaAllah 🙂

Terharu. Sungguh. Ga nyangka, padahal saya cuma dateng ke wisudaannya dan bawa sebuket bunga berisi do’a. Walopun baru ketemu di hari kedua karena saya telat. Haha.. Jadi mikir, emang ya sesuatu yang menurut kita biasa-biasa aja, untuk orang lain belum tentu biasa lho. 

Flashback kenapa saya bisa kenal dengan Amy Hadiastuti, MT. (Cieeeh yang baru master..) Kayaknya saya juga belum pernah cerita ke Amy kenapa bisa tau Amy. Jadi awalnya, saya lagi blogwalking di blognya Amel sama Eja. Nah, disana saya nemu nama Amy Hadiastuti di blog mereka, saya iseng buka dan ternyata WOW banget isinya, inspiring! Sejak itu saya pengen menggali ilmu darinya. Akhirnya ketagihanlah saya update tulisan-tulisan Amy, sampai suatu hari saya, Eja, dan temen laki-laki kita punya rencana jalan-jalan ke Jogja. Nah, karena saya dirasa harus ajak temen perempuan satu lagi, tercetuslah nama Amy. Bahkan Eja aja bingung kenapa saya tiba-tiba nyebut nama Amy. Hahah..

Namun, apa mau dikata, rencana ke Jogja pun dibatalkan secara sepihak. Kemudian beberapa hari kemudian, saya makan malem sama Eja di Nasi Goreng Parkiran SR, disitu dia cerita cukup banyak tentang Amy dan cerita itu membuat saya pengen ketemu karena emang belum pernah ketemu sama sekali. Tenang My, Lia masih normal. Hehehe =p

Suatu saat, di suatu sore, saya bimbingan dengan Pak Akhmaloka. Karena menunggu giliran cukup lama, saya iseng buka Yahoo Messenger dan tiba-tiba ngidam makan bebek sampe status YM saya tulis “pengen makan bebek”. Beberapa menit kemudian, Eja yang kebetulan lagi online YM juga langsung ngajak makan bebek. Saya iyakan ajakannya dengan syarat ajak temen satu orang lagi. Saking saya pengen ketemu Amy, saya usul nama Amy untuk diajak makan bebek. Eeeh ternyata doi lagi sakit. Gagal deh… =(

And then.. seiring berjalannya waktu saya terus update blog Amy, saya sempet BBM dan sms Amy juga beberapa kali tapi belum ada kesempatan ketemu juga. Hahah.. Akhirnya, tanggal berapa Maret gitu, Ichsan-temen unit saya dan temen sejurusan Amy-sidang sarjana. Gak ada janji sama Amy buat ketemu tapi surprise! Baru disitulah saya kenalan sama Amy, itu pun dikasih tau Eja. Wkwkwk =))

Jadi itulah pertemuan pertama saya sama Amy. Kagum. Sungguh. Udah baik, smart, friendly, bisa jahit, jago masak, humble pula. Calon istri idaman banget deh pokoknya. Eja aja bilang, “Amy itu role modelnya HME!”  Itulah kenapa saya tulis do’a “hope a lucky man will marry you as soon as possible” aamiin..

akhirnyaaa ketemu Amy di Wisuda ITB Oktober’12 hari kedua =))

 

 

 

Seandainya cinta adalah anugerah suci dari-Mu Allah, kuatkanlah ia mengalir tepat pada masanya; dengan jalan yang Kau suka, dengan malaikat yang turut mendo’a, dengan senyuman Rasulullah yang akan berbangga. Cinta yang hanya mengalir untuk ia yang halal untukku saja. – Teh Fu

Selamat Hari Anak Nasional

Selamat Hari Anak Nasional!!

Semoga seluruh anak Indonesia segera mendapatkan haknya untuk belajar, memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan.

Semoga seluruh anak Indonesia segera menunaikan kewajibannya untuk mengajar, membahagiakan, dan menyejahterakan.

Selamat Hari Anak Nasional Sekolah Bermain Balon Hijau ^_^

Kalau nanti punya suami yang suka musik dan jago main alat musik, mau minta dibuatin lagu anak-anak untuk anak-anak saya yang lucu, lagi menggemaskan ini. Dalam rangka apa? Dalam rangka Hari Anak Nasional #okesip ^_^

6 Maret 2011

Ditulis pada tanggal 6 Maret 2011, 23.00 WIB

Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang luar biasa tak terhitung jumlah dan indahnya sampai detik ini. Sampai detik dimana saya genap berumur 22 tahun. Sudah cukup banyak perjalanan hidup yang saya lewati. Masa kanak-kanak dimana saya hanya memikirkan main, main, dan main, masa remaja dimana itu adalah masa kenakalan saya, masa dimana saya mulai mencari jati diri dan saat ini dimana saya beranjak dewasa, sedang memikirkan dan merencanakan masa depan saya, membuat strategi demi strategi untuk mencapai mimpi-mimpi besar saya.

Ya Allah, terima kasih untuk semuanya. Saya hanya ingin mengatakan betapa bahagianya saya hari ini. Alhamdulillah. ^^

Wish I can be a better woman, a succesful entrepreneur, a nice social activist, a best wife, and a best mom, someday. Aamiin.