Tentang Pasrah…

Tadi malem ketemuan sama Teh @FitriYuliaa di Es Durian Pak Aip, enyaaakkk bangeett! Semangkok berdua lagi, romantis kronis kan?! Hahaha bilang aja ngirit. Di sela-sela obrolan, muncullah pembahasan tentang PASRAH. Beberapa waktu lalu ada salah seorang temen TehFit yang pernah nanya,

“Emang pasrah kaya gimana sih? Pasrah beda kan sama nyerah?”

terus katanya TehFit jawab, redaksinya mungkin ga persis kaya gini tapi semoga pesan intinya tetep sama,

“Kalau misalkan aku lagi meluk anak kecil terus anak kecil itu meraung-raung minta dilepasin, aku gak akan ngelepasin, malah makin meluk dia sekenceng-kencengnya. Sampai dia minta ampun, baru aku lepasin. Nah, pasrah teh kaya gitu.”

Oh, kalau selama ini kita terus menuntut, meraung-raung minta yang ini dan itu, begini dan begitu, padahal itu belum tentu baik bagi kita, ternyata Allah tak kunjung mengabulkan pinta kita, mungkin itu petunjuk Allah bagi kita untuk segera pasrah, berserah atas segala takdir-Nya.

Allah, ku serahkan segala ikhtiarku. Aku pada-Mu :”)

Advertisements

Masih cukupkah bensin kita?

Setiap benda pasti memerlukan energi untuk bergerak. Lihat saja manusia, ketika asupan makanan kurang, maka energi yang dihasilkan juga kurang. Badan terasa lemas sehingga malas beraktivitas. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh manusia sehingga makanan bisa menghasilkan energi? Salah satu bentuk kebesaran Allah, tubuh manusia memiliki ‘pabrik canggih’ dimana serangkaian reaksi kimia bisa terjadi sehingga kita bisa bertahan untuk hidup. Makanan yang masuk ke dalam tubuh kita mengandung karbohidrat dalam bentuk senyawa kompleks. Supaya dapat digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan energi, senyawa karbohidrat harus dipecah menjadi senyawa gula sederhana (monosakarida) seperti glukosa. Kemudian glukosa mengalami reaksi biokimia yang dikenal sebagai glikolisis yang mana akan dihasilkan energi yang disimpan dalam senyawa organik berupa Adenosine triphosphate atau lebih dikenal dengan ATP dan NADH. Ouch, kenapa jadi masuk pelajaran biokimia ya? Tak apa, yang penting bahagia 😀

Seperti halnya manusia, Continue reading

Terapi Syukur

Terkadang kita saya terlena oleh kebahagiaan duniawi hingga lupa bersyukur. Ketika dicabut sedikit saja, baru sadar kalau semua yang kita miliki hanya titipan Allah. Mungkin yang sedikit diambil itu merupakan cara Allah mengingatkan kita kalau kita kurang bersyukur sama Allah, padahal perintah bersyukur sudah tercantum dalam Al-Qur’an.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku.“(QS. Al-Baqarah: 152)

Nah #KataGuruku, Continue reading

=)))

Hari Jum’at kemarin, saya diajak ketiga teman saya menjenguk seorang teman yang baru saja melahirkan di daerah Arcamanik. Kenapa coba saya diajak? Karena saya satu-satunya perempuan yang membawa motor, sehingga saya diminta membonceng teman perempuan kami. Alhamdulillah, lumayan buat nambah-nambah penghasilan :p *ngojeg*

Oke singkat cerita, Continue reading

tiga hari ini

Masya Allah tiga hari ini…

Dalam tiga hari ini mood sedang sangat-sangat baik, alhamdulillah.

Dalam tiga hari ini tiap keingetan teman, dalam beberapa jam kemudian langsung ketemu tanpa disengaja, atau tetiba yang diingat menyapa lewat pesan singkat dan media sosial setelah sekian lama tak jumpa. Pertama, malam hari tetiba ingat Rindia, yang sejak kepulangannya dari Belanda belum saya temui, tak disangka keesokan harinya Allah mempertemukan kami di dekat kantor saya. Kedua, siang harinya saya teringat Nna yang sejak setibanya di Belanda, belum pernah berkomunikasi dengan saya, eh malam harinya Nna menyapa saya di Facebook dan obrolan berlanjut di YM. Ketiga, sudah lebih dari setahun saya tidak bertemu dengan Adi, adik kelas saya, tetiba malam itu juga dia mengirimkan pesan singkat pada saya. Keempat, Reza, baru saja tadi siang saya tiba-tiba teringat dengan kawan baik yang satu itu karena memang sudah lama tidak terlibat obrolan panjang tentang hidup. Sore harinya dia menyapa saya di WhatsApp, yang baru kembali setelah satu bulan tak bisa digunakan.

Dalam tiga hari ini juga, pertanyaan maupun pernyataan perihal menyempurnakan separuh agama, atau yang lebih akrab di telinga dengan kata ‘menikah’ datang silih berganti. Pertama, seorang kawan baik dengan seriusnya mengetikkan pesan lewat BBM, “Kamu harus ikhtiar untuk menikah tahun ini. Serius..” Kedua, kawan baik lainnya menyebutkan bahwa beliau sedang menanti progress dari saya (katanya mau mencarikan calon, haha) Ketiga, kawan baik lainnya (lagi) yang kebetulan sudah menikah tetiba bertanya, “Kapan nyusul? Nikah enak lho!” Keempat, tadi siang salah seorang atasan di kantor, yang sudah cukup lama tidak saya jumpai tetiba menyapa dengan sebuah pertanyaan singkat, “Lia, kapan nikah?” Dan beberapa pertanyaan/pernyataan itu hanya bisa saya jawab dengan, “InsyaAllah secepatnya” *sambil senyum* :’)

How I met Amy, hahaha..

Sore ini, terharu melihat sebuah postingan di blog seorang teman baik. Sebetulnya kita ga deket-deket banget, bahkan ketemu aja baru dalam hitungan jari, entah kenapa rasanya saya ‘klik’ aja. Kalo kata Amy mah berteman dalam kebaikan ya My, insyaAllah 🙂

Terharu. Sungguh. Ga nyangka, padahal saya cuma dateng ke wisudaannya dan bawa sebuket bunga berisi do’a. Walopun baru ketemu di hari kedua karena saya telat. Haha.. Jadi mikir, emang ya sesuatu yang menurut kita biasa-biasa aja, untuk orang lain belum tentu biasa lho. 

Flashback kenapa saya bisa kenal dengan Amy Hadiastuti, MT. (Cieeeh yang baru master..) Kayaknya saya juga belum pernah cerita ke Amy kenapa bisa tau Amy. Jadi awalnya, saya lagi blogwalking di blognya Amel sama Eja. Nah, disana saya nemu nama Amy Hadiastuti di blog mereka, saya iseng buka dan ternyata WOW banget isinya, inspiring! Sejak itu saya pengen menggali ilmu darinya. Akhirnya ketagihanlah saya update tulisan-tulisan Amy, sampai suatu hari saya, Eja, dan temen laki-laki kita punya rencana jalan-jalan ke Jogja. Nah, karena saya dirasa harus ajak temen perempuan satu lagi, tercetuslah nama Amy. Bahkan Eja aja bingung kenapa saya tiba-tiba nyebut nama Amy. Hahah..

Namun, apa mau dikata, rencana ke Jogja pun dibatalkan secara sepihak. Kemudian beberapa hari kemudian, saya makan malem sama Eja di Nasi Goreng Parkiran SR, disitu dia cerita cukup banyak tentang Amy dan cerita itu membuat saya pengen ketemu karena emang belum pernah ketemu sama sekali. Tenang My, Lia masih normal. Hehehe =p

Suatu saat, di suatu sore, saya bimbingan dengan Pak Akhmaloka. Karena menunggu giliran cukup lama, saya iseng buka Yahoo Messenger dan tiba-tiba ngidam makan bebek sampe status YM saya tulis “pengen makan bebek”. Beberapa menit kemudian, Eja yang kebetulan lagi online YM juga langsung ngajak makan bebek. Saya iyakan ajakannya dengan syarat ajak temen satu orang lagi. Saking saya pengen ketemu Amy, saya usul nama Amy untuk diajak makan bebek. Eeeh ternyata doi lagi sakit. Gagal deh… =(

And then.. seiring berjalannya waktu saya terus update blog Amy, saya sempet BBM dan sms Amy juga beberapa kali tapi belum ada kesempatan ketemu juga. Hahah.. Akhirnya, tanggal berapa Maret gitu, Ichsan-temen unit saya dan temen sejurusan Amy-sidang sarjana. Gak ada janji sama Amy buat ketemu tapi surprise! Baru disitulah saya kenalan sama Amy, itu pun dikasih tau Eja. Wkwkwk =))

Jadi itulah pertemuan pertama saya sama Amy. Kagum. Sungguh. Udah baik, smart, friendly, bisa jahit, jago masak, humble pula. Calon istri idaman banget deh pokoknya. Eja aja bilang, “Amy itu role modelnya HME!”  Itulah kenapa saya tulis do’a “hope a lucky man will marry you as soon as possible” aamiin..

akhirnyaaa ketemu Amy di Wisuda ITB Oktober’12 hari kedua =))