Manajemen Keuangan Keluarga

Assalamu’alaykum. Selamat malam! Apa kabar, Gengs? Semoga selalu sehat dan bahagia dalam lindungan Allah πŸ˜€

Di malam minggu ini, ditemani beberapa sisa titik hujan di kaca jendela, saya ingin sedikit berbagi tentang Manajemen Keuangan Keluarga. Aduh, sensitif banget ya kalo udah ngomongin soal duit. Hahaha alhamdulillah ini masih tanggal muda yaa jadi sensitifitas soal duit masih bisa dikontrol :))

Gengs, alhamdulillah beberapa bulan terakhir ini saya ikut Kuliah Online Ibu Profesional bersama Ibu @septipw setiap hari Rabu. Udah pernah denger tentang Komunitas Ibu Profesional belum? Nih..nih..info lengkapnya bisa ditengok disini. Seru banget kuliahnya! Nambah ilmu, nambah kenalan juga.. πŸ˜€

Nah, topik kuliah online Ibu Profesional di minggu ini adalah Manajemen Keuangan Keluarga. Pas banget buat saya yang lagi jungkir balik belajar mengelola keuangan pribadi. Hoho..

Kalo boleh dianalogikan, uang di dalam dompet itu ibarat air di dalam tangki berlubang, yang bisa mengalir ke segala arah. Kalau gak kita kontrol debitnya, bisa-bisa mengalir gitu aja, gak jelas, tau-tau habis aja. Hemm… padahal rezeki yang kita terima nanti bakal kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Nah, islam itu udah mengatur gimana caranya mengelola keuangan lho! Keren ya islam? Iya dong, islam kan agama yang menyeluruh, udah ada tuntunannya untuk segala aspek kehidupan πŸ˜€

Dalam kuliah online yang saya ikuti, Bu Septi memaparkan materi bagaimana mengelola keuangan keluarga secara islami yang pernah diberikan oleh Pak @ahmadgozali, beliau adalah seorang perencana keuangan. Nah, kalau misalkan kita mendapatkan penghasilan, baik itu dari bekerja atau berbisnis, apa yang seharusnya kita lakukan sih? Berikut ini beberapa tahapan dalam mengelola keuangan:

1. Filter pemasukan yang diterima
Ini PR banget buat kita, pastikan segala pendapatan yang masuk ke dalam kantong berasal dari sumber yang halal. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

2. Alirkan ke pos ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah)
Yang perlu dilakukan setelah kita memfilter pemasukan adalah menunaikan hak Allah dengan mengeluarkan Zakat, Infaq, atau Shadaqah. Ini juga udah tercantum dalam Al-Qur’an:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah: 261)

Nah, ZIS ini sebaiknya dikeluarkan kepada keluarga terdekat terlebih dahulu, jika sudah tercukupi, coba tengok tetangga di sekitar tempat tinggal kita, jika sudah tercukupi juga barulah ke tempat yang jauh.

3. Alirkan ke pos hutang
Membayar hutang sama dengan menunaikan hak orang lain. Ini penting banget-banget! Salah satu dalil mengenai bahaya hutang:

Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya masuk surga: (pertama) bebas dari sombong, (kedua) dari khianat, dan (ketiga) dari tanggungan hutang.” (HR. Ibnu Majah II/806 no: 2412, dan At-Tirmidzi IV/138 no: 1573. Dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).

Semoga kita termasuk salah satu di antaranya ya. Aamiin. Astaghfirullah jadi inget masih punya utang pulsa ke Mang Beye dan setor uang buku ke Teh Fu ._.

4. Alirkan ke pos tabungan dan investasi
Nah, ini nih yang paling sering keliru. Karena dari kecil dicekokin teori “Kalau punya uang, SISANYA ditabung”, butuh perjuangan keras untuk mengubah mindset tersebut. Coba deh kalau misalkan gak ada sisa, gak ada yang ditabung dong? Padahal menabung ini sama dengan menunaikan hak sendiri di masa depan. Kita kan gak pernah tau apa yang terjadi di masa depan, kalau dalam kondisi terdesak, kita bisa ambil tabungan yang sudah kita kumpulkan untuk memenuhi kebutuhan yang terdesak. Mari menabung dan berinvestasi, Gengs! \(^.^)/

5. Alirkan ke pos kebutuhan hidup
Banyak banget yang komplain kenapa pos kebutuhan hidup justru ditempatin terakhir? Gak ada sisanya dong nanti? Ya gak gitu juga. Sebelum kita menggunakan sistem manajemen keuangan ini, kita perlu tau dulu anggaran kebutuhan hidup setiap bulan. Gimana ngeceknya? Dulu pas saya ikut pelatihan perencanaan keuangan sama Mbak @fabfebi, anggaran kebutuhan hidup itu bisa kita susun setelah kita menghitung pengeluaran kebutuhan hidup kita selama tiga bulan berturut-turut. Dengan begitu, kita bisa melihat pola pengeluaran yang (biasanya) jumlahnya gak akan terlalu jauh. Setelah kita punya anggaran kebutuhan hidup per bulannya, kita bisa mengatur berapa banyak persentase dari pemasukan yang harus dialirkan ke masing-masing pos tadi. Sisanya, harus cukup untuk kebutuhan hidup. Dengan begitu, semoga kita bisa terdidik untuk hidup Qona’ah πŸ™‚

Oh ya, ada satu quote yang saya petik dari Bu Septi,

“Dalam keadaan sesulit apapun, nikmatilah susah dengan bahagia.”

Happy weekend, Gengs!

Advertisements

One thought on “Manajemen Keuangan Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s